TANJABBARAT-JAMBINTIKA-COM- Dirut Perumda Tirta Pengabuan, Feri Elvianto, S.H. membantah isu miring soal santernya kabar kolepnya perusahaan air bersih milik Kabupaten Tanjab Barat ini.
Feri menjelaskan, kondisi perusahaan saat ini sedang dalam masa pemulihan karena kurangnya perawatan selama hampir empat tahun terakhir.
Pihaknya juga meminta masyarakat tidak termakan isu yang menyesatkan dan tetap memberikan kepercayaan kepada Perumda untuk memberikan pelayanan kebutuhan air bersih.
"Isu bangkrut adalah tidak benar dan menyesatkan. Perumda saat ini dalam kondisi pemulihan akibat kurangnya pemeliharaan selama empat tahun terakhir, namun bukan berarti bangkrut," ujar Feri Elvianto.
"Pelanggan kita saat ini mencapai 11 ribu pelanggan, dan kami tetap beroperasi, memproduksi, serta melayani kebutuhan air bersih masyarakat setiap hari," sambungnya.
Terkait keluhan masyarakat mengenai aliran air yang kecil atau mati bergilir belakangan ini, Feri Elvianto menjelaskan hal tersebut bukan tanda kebangkrutan, melainkan akibat tiga faktor teknis yang telah terabaikan dalam waktu lama.
Pertama, kolam limbah di Instalasi Pengolahan Air Tebing Tinggi penuh endapan lumpur dan tidak dikeruk selama empat tahun. Kondisi ini menyebabkan saringan tersumbat dan menurunkan kapasitas produksi hingga 40 persen. Pihak manajemen sedang mengajukan bantuan alat berat ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang untuk penanganan segera.
Kedua, pipa transmisi yang sudah tua mengalami kebocoran di sejumlah titik, sehingga kehilangan air mencapai 25 persen sebelum sampai ke rumah warga. Sepanjang tahun 2025 hingga 2026 tercatat tujuh titik kebocoran besar terjadi. Sementara itu, dari bantuan lima unit alat ukur aliran air (Flow Meter) dari Pemerintah Provinsi Jambi, saat ini sudah terpasang satu unit di IPA Tebing Tinggi untuk membantu pendeteksian titik kebocoran secara lebih akurat.
Ketiga, debit Sungai Pengabuan sebagai sumber air baku menurun tajam saat musim kemarau, yakni turun hingga 60 persen. Hal ini merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun, bukan karena keuangan perusahaan habis.
Ditanya mengenai kondisi keuangan perusahaan, Feri Elvianto mengakui Perumda mencatat kerugian dalam empat tahun terakhir. Namun ia menegaskan, kerugian berbeda dengan kebangkrutan. Selama empat tahun terakhir, tarif air tidak mengalami penyesuaian, sementara biaya operasional terus meningkat harga listrik naik 30 persen dan harga tawas naik 50 persen. Akibatnya, perusahaan menjual air di bawah harga pokok produksi.
“Saat ini kami sedang mengajukan penyesuaian tarif yang rasional kepada Pemerintah Daerah dan DPRD agar Perumda dapat kembali sehat dan berkelanjutan. Perusahaan yang benar-benar bangkrut tidak mungkin masih beroperasi dan mendapatkan kepercayaan dari pemerintah provinsi untuk dukungan investasi,” jelasnya.
Feri Elvianto mengatakan dengan dukungan pemerintah daerah dan pengertian masyarakat, diharapkan layanan Perumda Tirta Pengabuan dapat kembali optimal dalam waktu dekat.(ARB)

